Sabtu, 30 Maret 2013

PARADIGMA DAN PENELITIAN

Karena Kita Tak Pernah Tahu
* Abdul Ghofur

Dalam mempelajari Teori Sosiologi, hal yang pertama kali dikenalkan oleh bapak/ibu dosen kepada kita adalah paradigma. Saudara masih ingatkan apa itu Paradigma Sosiologi?. Saya yakin saudara masih ingat dengan baik apa itu  paradigma fakta sosial, definisi sosial, dan prilaku sosial. Begitu juga dengan tokoh-tokoh dan teori-teori yang ada dalam ketiga paradigma tersebut, saya yakin saudara sudah menghafalkannya dengan amat baik. Mungkin jika ada yang lupa, bisa kok lihat tabel di bawah ini:

Paradigma
Gambaran dasar pokok permasalahan
Teori
Metode
Eksemplar

FAKTA SOSIAL
Obyek :
·         Eksternal
·         Memaksa
·         Umum
STRUKTURAL FUNGSIONAL, KONFLIK, Teori Sistem, dan Teori Sosiologi Makro
Metode Survei dengan Kuesioner dan wawancara
EMILE DURKHEIM
The Rules of Sociological Method, dan Suicide

DEFINISI SOSIAL
Subyek :
·         internal
·         bebas
·         khusus
·         TINDAKAN (Weber, Parsons), INTERAKSIONISME SIMBOLIK (Weber, Mac Iver, Mead, Cooley,Thomas, Blumer), SOSIOLOGI FENOMENOLOGI (Weber,Schutz,Garfink)
Observasi /Pengamatan,

Interpretative-understanding/ verstehen (pemahaman)
MAX WEBER
Tindakan Sosial

PERILAKU SOSIAL
Perilaku manusia deterministik: penghargaan dan hukuman
PERILAKU (Burgers & Bushell, Homans)
Teori Sosiologi Behavioral, dan Pertukaran (exchange teory)
Eksperimen
B.F.SKINNER
Perilaku Sosial
 Sumber : ngutak-atiek bukune wonk.
Gimana, sudah ingat kembali pastinya J. Sekarang, coba kita telaah yuk, sebenarnya apa sih itu paradigma?, kenapa juga kita harus mempelajari paradigma, toh alat analisis untuk penelitian kita  menggunakan Teori? “gak ada kan bab kajian paradigma dalam penulisan skripsi”.hmmmmm bingung gak?, atau bingung banget, Aku juga.. L
Thomas Kuhn dalam karyanya berjudul The Structure of Scientific Revolution memperkenalkan istilah Paradigma. Menurutnya, paradigma adalah satu kerangka referensi atau pandangan dunia yang menjadi dasar keyakinan atau pijakan suatu teori. Mengembangkan dari konsep tersebut, saya mencoba mencurahkan pikiran saya ( INGAT  jangan percaya). Opini saya, Paradigma  Sosiologi adalah suatu sudut pandang dasar yang melatarbelakangi pemikiran peneliti dalam menginterpretasikan kejadian-kejadian di masyarakat sebagai pusat kajiannya. Mengutip dari Ritzer, dalam buku hasil saduran Alimandan versi terjemahan yang berjudul “Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda”. Dalam buku itu, Ritzer memetakan tiga paradigma besar dalam disiplin sosiologi.
Paradigma pertama adalah Fakta Sosial. Paradigma ini dikembangkan oleh Emile Durkheim, seorang sosiolog “integrasi sosial” asal Perancis, melalui dua karyanya, The Rules of Sociological Method (1895) dan Suicide (1897). Dapat kita lihat tabel diatas, gambaran dasar pokok permasalahan paradigma ini dipandang sebagai obyek : eksternal, memaksa, dan umum. Durkheim membangun konsep fakta sosial yang kemudian diterapkannya dalam mempelajari gejala bunuh diri, dan dimaksudkan untuk memisahkan sosiologi dari arena psikologi dan filsafat. Menurut Durkheim, fakta sosial harus dinyatakan sebagai sesuatu yang berada diluar individu dan bersifat memaksa. Ada dua tipe dasar dari fakta sosial, yakni : struktur sosial dan pranata sosial. Paradigma ini memandang tindakan individu sebagai tindakan yang ditentukan oleh norma-norma, nilai-nilai, serta struktur sosial.
Paradigma kedua adalah Definisi Sosial, yang dikembangkan oleh Max Weber untuk menganalisa tindakan sosial (social action). Weber tertarik pada makna subyektif yang diberikan individu terhadap tindakan mereka, dan tidak tertarik untuk mempelajari fakta sosial yang bersifat makro seperti struktur sosial dan pranata sosial. Bagi Weber yang menjadi pokok persoalan sosiologi adalah proses pendefinisian sosial dan akibat-akibat dari suatu aksi serta interaksi sosial. Paradigma ini secara pasti memandang individu sebagai orang yang aktif menciptakan kehidupan sosialnya sendiri, sementara struktur dan pranata sosial hanya merupakan kerangka tempat proses pendefinisian sosial dan proses interaksi berlangsung.
Paradigma ketiga adalah Perilaku Sosial. Paradigma ini dikembangkan oleh B. F. Skiner dengan meminjam pendekatan behaviorisme dari ilmu psikologi (behavioral of man and contingencies of reinforcement). Paradigma perilaku sosial menetapkan pokok persoalan sosiologi adalah perilaku atau tingkah laku dan kemungkinan perulangannya, serta memusatkan perhatiannya kepada hubungan saling pengaruh antara individu dan lingkungannya, atau dengan kata lain tingkahlaku individu yang berlangsung dalam hubungannya dengan faktor lingkungan. Pandangan ini lebih mengarahkan pendekatannya pada psikologi, dimana Skinner mencoba menerjemahkan prinsip-prinsip psikologi aliran behaviourisme ke dalam sosiologi. Teori, gagasan, dan praktek yang dilakukannya telah memegang peranan penting dalam pengembangan sosiologi behaviour.
Pengetahuan tentang adanya tiga paradigma ini berkaitan dengan penganutan dalam mempelajari konsep-konsep dan Teori-teori Sosiologi Klasik. Sebagai salah satu contoh, teori konflik dan teori fungsionalisme struktural. Sepintas konsep-konsep yang ada diantara keduanya terkesan bertentangan, namun jika ditelaah lebih dalam ternyata teori fungsionalisme struktural dan teori  konflik lebih banyak kesamaannya ketimbang perbedaannya, karena keduanya tercakup dalam satu paradigma (paradigma fakta sosial). Menjadi jelas disini bahwa dalam mempelajari sosiologi dan melakukan pendekatan dengan menggunakan konsep-konsep sosiologi, kita harus memahami benar tentang keragaman konsep yang muncul, serta pendekatan-pendekatan yang nampaknya bertentangan, serta kemungkinan adanya perbedaan paradigma yang mungkin menjadi penyebabnya.
Mendengar Curcol Ibu Dosen kita tercinta ( Bu Lilis, saat menguji skripsi), “ Mengapa saudara menggunakan teori….dalam penalitian saudara?”, jawaban mahasiswa, ”Karena teori tersebut BERKAITAN dengan …..penelitian saya”. Menurut beliau pertanyaan tersebut selalu terjawab dengan kata BERKAITAN, sepertinya sudah menjadi “PITAKON KUBUR” bagi mahasiswa. Memang jawaban tersebut tidak salah, akan tetapi seolah-olah teori hanyalah sebuah dogma yang tidak memerlukan penjelasan dan tidak mampu menjelaskan kenyataan sosial. Padahal, pada dasarnya teori dibangun dari aksioma/postulat (suatu kebenaran yang tidak memerlukan pembuktian), asumsi (dugaan dasar yang dapat diterima), proposisi (rancangan usulan), hipotesis (dugaan yang harus dibuktikan kebenarannya), Penelitian (cara ilmiah untuk menguji hipotesis), konsep (ide atau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa konkret), penelitian lagi, dan jadilah teori (pendapat yang didasarkan pada penelitian dan penemuan, didukung oleh data dan argumentasi).
Lalu bagaimana agar “PITAKON KUBUR” bisa terjawab dengan tepat?. Kembali lagi ke pembahasan awal,mengapa kita harus memahami paradigma?. Dalam tulisan ini saya berpendapat bahwa pentingnya mempelajari paradigma yaitu untuk memudahkan peneliti menentukan landasan teori yang tepat dalam penelitian. Dengan memahami paradigma, kita dapat memilah dan memilih paradigma yang sesuai dengan kajian/objek penelitian, menentukan teori (formal theory and substantif theory) yang tepat, serta konsep-konsep untuk menjelaskan kenyataan sosial. Insaallah “pitakon kubur” tidak lagi menjadi permasalahan klasik buat kita… Amien…

NB:
ü  Menerima kritik dan saran untuk perbaikan tulisan ini (kalau ada ejekan dalam bahasa krama inggil ya).
ü  Bagi yang tertarik maupun yang biasa aja dengan tulisan ini, datang yuh ke acara diskusi mingguan,  kita kupas bareng-bareng mengenai paradigma sosiologi.
ü  Menuju SosAnt yang berbasis lokal berwawasan internasional.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar