Minggu, 21 Oktober 2012

multikultural kelompok aliran musik


        BAB I PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Indonesia adalah negara yang sangat majemuk, baik itu dalam suku, agama, keyakinan, dan cara berpikir. Salah satu  kemajemukan di Indonesia saat ini adalah  kemajemukan jenis aliran-aliran musik. Kemajemukan ini mengkotak-kotakan masyarakat Indonesia, hal ini ditandai dengan munculnya kelompok-kelompok aliran musik. Hal tersebut  menunjukan adanya perbedaan-perbedaan individu dalam penerimaan kebudayaan (musik) dan terjadinya penyatuan dalam kelompok yang didasari oleh kesamaan dalam musik.
Perbedaan-perbedaan antar kelompok-kelompok aliran musik tidak jarang menjadi pemicu dari kesalahpahaman yang berujung menjadi perselisihan, dan tidak jarang berubah menjadi kekerasan dan kerusuhan. Untuk itu perlu dicari suatu solusi yang tepat dalam mengatasi dampak-dampak negatif yang ditimbulkan oleh multikultural aliran musik. Dan sebelum dapat menemukan solusi-solusi tersebut, multikultural sendiri perlu ditelaah lebih lanjut agar manambah pemahaman tentang multikulturalisme, dan tentunya mencari solusinya.
Perkembangan industri musik di Ind
onesia sangatlah pesat, bahkan sampai menembus pasaran internasional (mengglobalisasi). Seiring dengan perkembangan tersebut banyak bermunculan band- band baru maupun penyanyi solo. Hal itu membawa inovasi- inovasi baru pada aliran musik. Aliran- aliran musik yang semulanya dikenal di Indonesia hanya pop, rock, dan dangdut, sekarang ini berkembang dan bertambah jumlahnya.
Aliran- aliran musik di Indonesia membentuk kelompok- kelompok bagi para pencintanya, baik itu dari genre musik itu maupun dari band atau penyanyi solo yang membawa aliran musik tersebut. Bisa dikatakan pembentukan kelompok ini berdasarkan penerimaan masyarakat terhadap industri musik.
Masyarakat Kabupaten Batang terdiri dari berbagai unsur – unsur perbedaan, salah satu diantaranya adalah perbedaan pada aliran musik. Pencinta aliran musik di Kabupaten Batang terbagi dalam berbagai kelompok. Kelompok   pop, rock, metal atau underground, punk, reage dan grunge. Masing- masing aliran tersebut membentuk komunitasnya yang berdiri sendiri.
Selain kelompok- kelompok aliran musik terbentuk dari genrenya, ada pula yang terbentuk karena adanya kesamaan band- band yang dijadikan idolanya, seperti J-rockstar (J-rock), vierania (veira), killmstreet (killingme inside), party dorkrs (PW gaskin), ST Setia (ST12), slankers (slank) dan outsider (SID). Dengan adanya multikultural tersebut tentunya memberikan kosekuensi terhadap kehidupan masyarakat (terutama kelompok- kelompok aliran musik) baik bersifat positif maupun bersifat negatif.
1.2  Rumusan Masalah
Berkaitan dengan subpokok-subpokok yang akan dikaitkan dengan pemicu multikultural, yaitu aliran-aliran musik, tentu perlu dikaji lebih dalam subpokok-subpokok tersebut agar dapat dikaitkan dengan multikulturalisme, sehingga akan ada rumusan masalah sebagai berikut:
1.    Bagaimana hakikat manusia dalam pembentukan multikulturalisme?
2.    Apa  pengertian multikulturalisme, kelompok sosial, dan musik?
3.    Bagaimana multikultural kelompok aliran musik di Kabupaten Batang?
4.    Apakah multikultural menyebabkan masalah- masalah sosial?
5.    Bagaimana menanggapi masalah-masalah yang terjadi akibat multikultural kelompok- kelompok aliran musik di Kabupaten Batang?

1.3  Tujuan dan Manfaat Penulisan
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Sosiologi Indonesia dan menanggapi dampak multikultural aliran musik di Kabupaten Batang. Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah untuk memperkaya wawasan pembaca tentang multikuluralisme aliran musik dan mengajak para pembaca untuk peduli dan ikut mencoba memecahkan permasalahan-permasalahan yang timbul akibat isu-isu multikulturalisme aliran musik yang mengkotak-kotakan pengemarnya (membentuk kelompok-kelompok).
4.4  Metode Penulisan
Penyusun memakai metode kepustakaan dan literatur dalam penyusunan makalah ini. Referensi didapat tidak hanya dari buku tapi juga dari media-media lain seperti internet.

1.5  Sistematika Penulisan
Makalah ini disusun dengan pembagian tiga bab, yaitu bab pendahuluan, bab pembahasan, dan bab penutup. Adapun pada bab pendahuluan terdiri dari: latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, metode peulisan, dan sistematika penulisan. Sedangkan bab pembahasan dibagi-bagi lagi berdasarkan subpokok-subpokok yang akan dikaitkan dengan multikltural kelompok aliran musik. Bab penutup terbagi dua menjadi kesimpulan dan saran.

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1    Hakikat Manusia.
Manusia sebagai satuan terkecil dari masyarakat memiliki tingkatan interaksi, pertama dengan diri sendiri, kemudian dengan sesamanya, dan lalu interaksi-interaksi tersebut yang membangun kebudayaan manusia tersebut. Kemudian, tiap satuan individu yang berada dalam masyarakat tersebut akhirnya membentuk budaya tertentu yang akan menjadi ciri khas dari daerah atau kelompok masyarakat yang mereka diami. Setelah berinteraksi dengan sesamanya dalam rumpun yang sama, masih ada tingkatan berikut lagi yaitu untuk berinteraksi dengan kelompok-kelompok masyarakat lain yang tiap individunya membangun kebudayaan berbeda. Indonesia sebagai bangsa yang sangat multikultur tentu menyebabkan tiap manusia yang mendiaminya terkadang harus membangun suatu hubungan yang sehat antar tiap kultur yang berbeda-beda. Sehingga pemahaman tentang multikulturalisme harus ditanamkan pada tiap-tiap warganya agar tidak terjadi konflik dalam keberagaman ini.

2.2    Multikulturalisme, Kelompok Sosial, dan Musik
2.2.1 Multikulturalisme
Pengertian dari multikulturalisme adalah suatu paham yang mengakui dan menghargai adanya suatu keragaman atau suatu kondisi multikultur. Di dalam multikulturalisme, sering terjadi isu-isu berkaitan dengan perbedaan-perbedaan dala keragaman yang sering menyebabkan kesalahpahaman.
Isu-isu multikulturalisme umumnya terjadi karena tuntutan suatu kelompok tertentu akan pengakuan di dalam suatu komunitas plural, dan juga terjadi karena tidak semua orang paham dengan konsep-konsep multikulturalisme.

2.2.2 Kelompok Sosial
·         Menurut Soerjono Soekanto :
Himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama karena saling hubungan diantara mereka secara timbal balik dan saling mempengaruhi.
·         Menurut Mayor Polak :
Sejumlah orang yang saling berhubungan dalam sebuah struktur
·         Menurut Robert K. Merton :
Sekumpulan orang yang saling berinteraksi sesuai dengan pola yang telah mapan.
·         Menurut Mac Iver & Charles H.Page:
Himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama, yang bersifat mempengaruhi dan saling menolong.
2.2.3 Musik dan Aliran Musik
Musik adalah salah satu media ungkapan kesenian, musik mencerminkan kebudayaan masyarakat pendukungnya. Di dalam musik terkandung nilai dan norma-norma yang menjadi bagian dari proses enkulturasi budaya, baik dalam bentuk formal maupun informal. Musik itu sendiri memiliki bentuk yang khas, baik dari sudut struktual maupun jenisnya dalam kebudayaan. Demikian juga yang terjadi pada musik dalam kebudayaan masyarakat melayu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990: 602). Aliran musik adalah pengelompokan jenis musik berdasarkan kesamaan instrumental.
2.3    Multikultural Kelompok Aliran Musik di Kabupaten Batang
Kemajemukan kelompok aliran musik di Kabupaten Batang disebabkan karena adanya bermacam-macam aliran musik di tanah air. Kelompok aliran musik di Kabupaten Batang meliputi, kelompok-kelompok genre musik yang meliputi; pop, rock, punk, metal atau underground, reage dan grunge. Selain itu ada kelompok-kelompok yang penyatuan dalam kelompoknya adalah kesamaan aliran musik yang dibawakan oleh band-band idola dari masing-masing individu, kelompok ini meliputi; slankers, j-rockstar, killmstreet team, party dorks, ST setia, dan outsiders. Kelompok-kelompok tersebut biasanya berkumpul setiap sabtu malam di jalan veteran depan pendopo kabupaten Batang. Di situ berbagai macam kelompok dan komunitas berkumpul dalam batasan kelompok masing-masing. Tak jarang terjadi benturan-benturan yang mengakibatkan kerusuhan, bahkan sampai terjadi kekerasan fisik. Berikut kelompok-kelompok aliran musik di Kabupaten Batang :
2.3.1.Kelompok-kelompok Genre musik, meliputi :
1.      Kelompok Aliran Punk
Kelompok ini mayoritas beranggotakan anak-anak jalanan, anak-anak yang putus sekolah dan sebagian anak pelajar SMA ataupun SMP. Solideritas dalam kelompok ini sangat tinggi, dimana pembelaan terhadap kelompoknya sangat besar dan biasanya mereka hidup berkelompok dalam batasan waktu yang tidak terbatas. Kebiasaannya yang buruk (minum-minuman keras, obat-obatan terlarang atu ngepil, ngamen, dan tidur di jalanan) membuat masyarakat umum antipati terhadap kelompok ini. Selain itu penampilan mereka yang extrem (bertindik, style rambut mohawk, dan lain-lain) melanggar nilai keindahan. Aliran musik ini bernuansa keras, gaya joget yang keras atau yang biasa disebut “pugonan” oleh orang Batang, gaya joget tersebut sangat rawan menyebabkan terjadinya benturan fisik.
2.      Kelompok Aliran Reage
Reage adalah jenis aliran musik yang mulanya dibawakan oleh Bob Marlley dari Jamaica. Ciri khas musik ini adalah slow tapi asik buat berdansa bagi para pengikutnya. Di Batang kelompok ini bernama “REBO” Reage Batang Ouyee. Penampilan anggota kelompok ini yang kumuh (rambut gimbal dan jarang mandi) dan kebiasaannya yang mengadopsi kebudayaan dari barat yaitu berjemur di pantai (Pantai Sigandu Kabupaten Batang). Simbol dari kelompok ini adalah warna hijau, kuning, dan merah. Disisi lain dalam kelompok ini banyak kebiasaan-kebiasaan buruk yang merusak para anggotanya bahkan melanggar norma hukum.
3.      Kelompok Aliran Metal dan Underground
Aliran musik underground sering dianggap musik yang bernuansa kekerasan. Itu karena tema-tema musiknya yang kerap mengusung tentang kematian, siksaan, neraka, kehidupan setelah kematian, kritik, protes, dan kecaman. Terlebih dengan kejadian di Gedung korpri Batang, konser musik underground yang berujung maut, semakin mengentalkan citra negatif. Padahal sebetulnya tak ada hubungan musik underground dengan kekerasan, apalagi menjadi penyebab tragedi maut di Gedung korpri. Lagu bagaimana sebetulnya perjalanan musik yang dinilai radikal ekstrem karena lirik-lirinya yang memang jauh dari kesan indah ini?. Awal-awal tumbuh di kalangan anak-anak urakan itu membuat underground dikenal sebagai aliran ekstrem. Predikat itu semakin kental ketika sejumlah konser underground waktu itu kerap melahirkan kericuhan. Biasanya dalam konser musik underground muncul subgender yang mempunyai massa pendukung dan subgender yang lainnya juga massa pendukung. Yang dari punk punya pendukung sendiri, yang dari metal juga punya sendiri. Awalnya hanya ejek-ejekan, kemudian ribut di dalam. Hal seperti itu kerap terjadi, terutama di kota-kota kecil,” seperti Batang. “Mereka memang punya idealisme sendiri dan mereka ingin membuktikan bahwa idealisme mereka tidak kalah juga dengan industri musik. Dan menurut saya itu perkembangan cara berpikir dan cara berbisnis anak-anak muda. Mereka ingin punya assosiate sendiri. Ada banyak hal positif kok pada komunitas underground ini.
4.      Kelompok Aliran Pop dan Rock
Pop adalah jenis aliran musik yang paling banyak memilki peminat, karena jenis musik ini merupakan aliran yang paling populer disaat ini. Kelompok aliran musik pop biasanya lebih terkesan baik dimata masyarakat. Nuansa musiknya yang mudah dinikmati serta liriknya yang mengusung tema cinta membuat musik ini diminati oleh masyarakat luas.
Rock, merupakan kelompok aliran musik yang paling menonjol dari segi gaya maupun tampilan para individunya. Kelompok rock di Batang dicirikan dengan pakaian serba hitam dan solideritas dalam kelompoknya yang kuat.
5.      Kelompok Aliran Grunge
Istilah GRUNGE muncul pertama kali pada awal tahun 90-an saat Nirvana melejit lewat singlenya Smeel Like Teen Spirits. Grunge merupakan perpaduan antara Heavy Metal dengan Punk dengan dasar sound yang muncul ala the Stooges dan Black Sabbath. Meski suara gitarnya mirip musik metal 70-an, tetapi estetika Grunge jauh berbeda dari musik metal tersebut. Lirik dan musiknya lebih mengarah ke punk dan idealisme indie seperti aliran American Hardcore awal ‘80-an. Kelompok grunge di Batang beranggotakan oleh orang-orang yang sudah dewasa, kurang lebih umur 30an. Dan interaksinya untuk bertatap muka intensitasnya sangat rendah.
2.3.2.Kelompok-kelompok yang integrasinya dari Band-band populer :
1.      Roban slankers
Roban Slankers merupakan kelompok aliran musik yang anggotanya terbesar di Batang. Pengkoordinasian pada kelompok ini terbagi atas wilayah kecamatan di Kabupaten Batang dan disatukan dalam koordinator kabupaten. Solideritas kelompok ini sangat tinggi, hal tersebut dikarenakan lirik-lirik lagu band Slank yang mengusung tema-tema tentang kehidupan seperti ; makan gak makan asal kumpul, generasi biru dan slank plur.
2.      Party Dorks Batang
Kelompok ini merupakan kelompok yang anggotanya mayoritas pelajar SMA. Dilihat dari segi interaksi dengan kelompok lain ataupun masyarakat, kelompok  ini merupakan kelompok yang paling anarki, shingga kelompok ini banyak mendapatkan musuh baik dari kelompok-kelompok lain maupun masyarakat umum.
3.      Veirania Batang
Veirania adalah kelompok yang terbentuk dari ikatan fans band veira. Dimana dalam kelompok ini anggotanya didominasi oleh wanita. Perkumpulan pada kelompok ini biasanya dilakukan setiap hari sabtu dari pukul 16.00 sampai 22.00. di jalan veteran depan pendopo Kabupaten Batang. Eksistensinya sekarang ini mulai menurun, dikarenakan sebagian besar anggotanya berada di luar kota.
4.      BJSC Batang J-Rock Star Community
BJSC merupakan kelompok yang terbentuk dari adanya kesamaan para individu yang menyukai band J-ROCK “Japanese Rock”. Kelompok ini dicirikan dengan gaya anggotanya harajuku (style rambut).
5.      Roban Killmstreetteam
Kelompok ini merupakan kelompok yang terbentuk karena pengaruh dari band baru yang membawa nuansa musik berbeda dari band-band sebelumnya yang ada diIndonesia, band tersebut yaitu Killingme Inside dengan aliran musiknya “hardcore”. Di Batang kelompok ini memiliki sentimenitas yang tinggi terhadap kelompok Party Dorks. Hal tersebut dipicu karena adanya penghiatan yang dilakukan vokalis PW Gaskin terhadap Band Killingme Inside.

2.4    Masalah-masalah Akibat Multikultural Kelompok Aliran Musik di Kabupaten Batang
Kemajemukan kelompok-kelompok aliran musik menyebabkan masalah-masalah sosial dalam masyarakat. Hal tersebut dipicu karena adanya perbedaan-perbedaan antara kelompok.
2.4.1. Masalah-maslah pada kelompok aliran musik di Kabupaten Batang
1.    Tingginya sentimenitas antar kelompok.
Perbedaan-perbedaan yang ada antar kelompok sering kali menyebabkan kerusuhan, hal tersebut biasanya dimulai dengan adanya rasa sentimen dari satu kelompok terhadap kelompok lain maupun beberapa kelompok terhadap satu kelompok. Kelompok yang menganggap dirinya adalah yang terbaik, biasanya yang menjadi pemicu munculnya sikap sentimenitas kelompok-kelompok lain.
2.    Adanya diskriminasi kelompok minoritas
Kelompok yang anggotanya minoritas sering kali mendapatkan banyak tekanan dari kelompok mayoritas. Perlakuan tidak baik dan anggapan dari kelompok mayoritas bahwa kelompok minoritas itu buruk, jelek, dan celaan-celaan yang mengusik ketentraman kelompok minoritas menjadi pemicu terjadinya konflik pada kelompok-kelompok tersebut. Salah satu bentuk diskriminasi yang dilakukan kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas adalah pemblokiran tempat yang biasanya untuk berkumpul.
3.    Saling ejek antar kelompok
Jenis aliran musik di Batang, musik masih "mengkotak-kotakan" dan sering kali menyebabkan konflik, contoh kecil :
Kelompok Underground  dengan kelompok yang penikmat musik Hiphop, disaat mereka berkumpul (kadang) mereka saling nyerang.
A(Underground):yo yo wassa bro! hiphop yo!
B(Hiphop):apaan si lo? musik lo sampah men! teriak teriak gak jelas gitu!
A:loh! daripada musik lo orangnya pada pake bling-bling kayak juragan ketoprak!
B: @#!$%!! POKOKNYA GUE GASUKA MUSIK LO! MAMAM TUH TERIAK-TERIAK! TERIAK AJAH TERUS SAMPE TALI SUARA LO KUSUT!
A: !@#$%!! BODO AMAT! LO MAMAM JUGA TUH MUSIK LO YANG SOK TAJIR! RANTAI KAPAL DIKALUNGIN DI LEHER!

(alhasil  kedua kelompok berantem karena hanya berbeda musik)

padahal kedua kelompok tersebut sama-sama orang yang menikmati musik!dan mereka berkarya! bukannya bersatu membuat sebuah karya yang fenomenal tapi malah berantem saling membela musik yang mereka nikmatin.


4.    Tawuran antar kelompok
Rasa sentimen yang ada dalam masing-masing kelompok dengan perbedaan-perbedaan yang ada didalamnya, meruoakan salah satu pemicu terjadinya konflik tawuran. Tawuran biasanya terjadi pada saat acara konser musik di alun-alun Kabupaten Batang. Salah satu contohnya adalah tawuran antar kelompok punk dan kelompok reage pada konser band Shaggy Dog malam tahun baru 2011 yang lalu.
5.    Rendahnya rasa toleransi
Dengan adanya  perbedaan-perbedaan yang menyebabkan terjadinya berbagai konflik, hal tersebut berdampak pada individu-individu yang berada dalam masing-masing kelompok merasa saling dendam, tidak ada keinginan untuk bersatu dengan kelompok lain.

2.42. Masalah- masalah pada masyarakat
1.   Situasi publik yang kurang nyaman
Dengan adanya kelompok-kelompok aliran musik yang berkumpul di Jalan veteran Kabupaten Batang, menyebabkan situasi keamanan di tempat tersebut kurang nyaman baik bagi kelompok maupun masyarakat umum. Hal tersebut dikarenakan sering terjadinya konflik yang berujung pada kerusuhan dan menyebabkan kekerasan fisik.
2.   Meningkatnya kenakalan remaja
Kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam kelompok aliran musik pada umumnya masih menyimpang pada norma-norma yang ada dalam masyarakat. Anggota kelompok yang mayoritas beranggotakan pelajar (remaja) menyebabkan rawannya terjadi penurunan moral pada dirinya.
3.   Kumuhnya fasilitas umum
Sikap yang tidak ramah terhadap lingkungan sering kali menjadi kebiasaan-kebiasaan dari kelompok-kelompok tersebut. Hal itu ditunjukan dengan berbagai prilaku mereka, diantaranya;
1.      Membuang sampah tidak pada tempatnya
2.      Membuang air kecil di sembarang tempat
3.      Merusak lampu penerangan jalan atau lampu hiasan kota.

2.5     Cara  Menanggapi Masalah-masalah Sosial Akibat Multikultural Kelompok Aliran Musik di Kabupaten Batang
Untuk menghadapi dampak-dampak negatif multikulturalisme kelompok aliran musik di Batang harus ada kesadaran dari diri masing-masing bahwa aliran musik baik maupun buruk berasal dari budi, kekuatan, dan kecerdasan akal manusia. Selain itu untuk menanggapi kemajemukan pada kelompok-kelompok aliran musik di kabupaten Batang diperlukan beberapa solusi, diantaranya sebagai berikut:
1.    Dibentuknya suatu wadah penyatuan dari berbagai kelompok aliran musik. Wadah tersebut dapat berupa sebuah lembaga sosial yang dibimbing oleh Dewan Kesenian Kabupaten Batang. Sehingga intraksi antar kelompok dapat terjaga keharmonisannya.
2.    Adanya pengendalian preventif  dari lembaga kemasyarakatan atau penegak hukum untuk mencegah terjadinya kerusuhan antar kelompok.
3.    Pada umumnya kelompok-kelompok ini beranggotakan para pelajar, sehingga perlunya pendidikan multikultural pada masyarakat, khususnya bagi pelajar Kabupaten Batang.
4.    Menumbuhkan rasa toleransi pada masyarakat. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara menanamkan etika kemajemukan pada masyarakat.
5.    Pengawasan secara intens oleh lembaga kepolisian dalam  acara all genre.



BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Multikultural Kelompok Aliran Musik adalah suatu keadaan dimana terjadi pebedaan-perbedaan antar kelompok yang didasari oleh adanya perbedaan aliran musik. Untuk mengatasi hal tersebut, pentingnya dicanangkan pendidikan multikulturalisme sejak dini agar dapat meminimalisir konflik yang terjadi. Pendidikan multikulturalisme sendiri tidak hanya diberikan pada sekolah-sekolah atau perguruan tinggi saja, tapi juga harus diterapkan dalam setiap aktivitas masyarakat. Di dalam pendidikan multikulturalisme harus diberi pemahaman mengenai hakikat manusia dalam masyarakat sehingga dapat menjadi jembatan untuk menyisipkan pengetahuan bahwa perbedaan-perbedaan yang ada dalam masyarakat bukanlah suatu hal yang patut dipermasalahkan. Akhlak yang baik, budi pekerti, nilai-nilai cinta kasih, kebersmaan dan keadilan harus dijunjung tinggi untuk menunjang agar etika kemajemukan dapat berjalan dengan baik.
3.2 Saran
Sebaiknya pemerintah Kabupaten Batang  harus secepatnya mencanangkan suatu program pendidikan yang berorientasi kepada pendidikan multikulturalisme. Dan pemerintah juga harus dengan sigap menangani permasalahan multikultural kelompok aliran musik agar tidak terjadi kerusuhan dan kekerasaan seperti halnya  tawuran pada saat konser musik perayaan hari jadi Kabupaten Batang.


DAFTAR PUSTAKA
·         Soekanto, Soerjono. 2006.  Sosiologi Suatu Pengantar.  Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada
·          http://musiktopan.blogspot.com/
·         Pratama, Anugrah Putra.2008.Etika Kemajemukan, Norma Sosial dan Norma.
·         Koentjaraningrat. 2000. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT. Rineka Cipta
·




















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar